Senin, 23 Oktober 2017

ARTIKEL



Keripik Singkong Balado, Usaha Rumahan yang Berawal dari Keisengan

                Mendengar istilah keripik singkong balado, mungkin sudah tidak asing lagi bagi sebagian orang dimana orang-orang akan membayangkan keripik ubi yang dibaluti dengan cabe dan rasa yang nikmat di mulut. Dan memang benar, keripik singkong balado seperti itu banyak ditemui di toko kripik balado dan dijadikan oleh-oleh khas Sumatera Barat. Namun, di Sawahlunto tepatnya di daerah Muaro Kalaban, keripik singkong balado dapat ditemui di warung-warung dengan kemasan kecil.
                Kripik balado dalam kemasan kecil di Muaro Kalaban ini merupakan hasil dari sebuah usaha rumahan. Usaha ini dirintis oleh sepasang suami istri. Muhammad Serijo (43) dan Riza Zendra (40) memulai usaha ini dari keisengan belaka. Usaha ini berawal dari kebingungan Serijo dengan hasil ladang yang dimiliki oleh keluarganya di Solok. Hasil ladang tersebut adalah singkong. Kebingungan dalam mengolah singkong ini memunculkan ide untuk menjadikannya sebuah usaha. Usaha yang terfikirkan waktu itu adalah membuat keripik balado yang dapat dijual di warung-warung kecil. Akhirnya terbentuklah usaha keripik balado ini.
                Setelah beberapa waktu berjalan, hasil panen singkong di ladang keluarga Serijo tidak dapat memenuhi kebutuhan untuk membuat keripik singkong balado di karenakan panen ubi kayu memakan waktu yang cukup lama. Menghadapi masalah ini, Serijo mancari dan membeli ubi kayu ke tempat lain. Saat sekarang ini, Serijo memasok singkong dari Pariaman. Ubi di datangkan dari Pariaman 2x seminggu yaitu pada setiap hari Selasa dan Sabtu.
                Proses pembuatan keripik balado biasanya di lakukan sebanyak 2x seminggu yaitu sehari setalah ubi kayu di datangkan dari Pariaman. Rangkaian pembuatannya di mulai dengan pengupasan kulit singkong yang dilakukan sendiri oleh pemilik usaha ini. Setelah singkong dikupas, lalu ubi dibersihkan. Selanjutkan ubi akan di potong menggunakan mesin pemotong. Uniknya pada proses pemotongan ini adalah ketika mesin melakukan pemotongan, hasil pemotonganya tersebut langsung akan masuk ke dalam kuali pengggorengan. Jadi pemilik usaha ini tidak perlu repot lagi untuk memasukkan singkong yang telah dipotong ke dalam kuali pengorenggan. Mesin pemotong singkong merupakan mesin yang dibuat sendiri oleh Serijo. Setelah singkong di goreng, singkong siap untuk di beri cabai. Cabai di olah sendiri oleh Riza. Untuk sekali pembuatan kripik balado dapat menghabiskan 10-20 kg cabai merah. 
Proses pemberian cabai pada singkong
                Keripik singkong balado yang sudah jadi akan dikemas dalam kemasan kecil. Dalam kemasan ini akan diberi satu ikan kecil sebagai ciri khas dari keripik balado ini. Ikan kecil ini juga memberikan sedikit sensasi ikan rasa ketika memakan keripik tersebut. Kemudian kemasan ini akan diikat sebanyak 25 buah. Nantinya keripik yang telah di ikat ini akan di jual ke warung-warung di Sawahlunto. Selain di Sawahlunto, keripik ini juga di jual di beberapa warung di Kota Solok. 
Keripik yang telah di kemas kecil dan diikat
                Hal yang membuat keripik singkong ini digemari oleh warga Muaro Kalaban adalah keripiknya yang empuk serta selalu baru. Keadaan yang selalu baru ini sangat disukai oleh penjual warung. Serijo memang mempunyai prinsip bahwa keripikinya akan diganti sekali 2 minggu demi menjaga kualitas. Apabila keripiknya tidak habis dalam 2 minggu maka keripik akan di ambil dan diganti dengan yang baru. Keripik yang tidak terjual selama 2 minggu tersebut akan di buang. Namun hal ini jarang terjadi dikarenakan sebelum 2 minggu keripik yang di letakkan di warung biasanya telah habis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar