Keripik Singkong Balado, Usaha
Rumahan yang Berawal dari Keisengan
Mendengar
istilah keripik singkong balado, mungkin sudah tidak asing lagi bagi sebagian
orang dimana orang-orang akan membayangkan keripik ubi yang dibaluti dengan
cabe dan rasa yang nikmat di mulut. Dan memang benar, keripik singkong balado seperti
itu banyak ditemui di toko kripik balado dan dijadikan oleh-oleh khas Sumatera
Barat. Namun, di Sawahlunto tepatnya di daerah Muaro Kalaban, keripik singkong balado
dapat ditemui di warung-warung dengan kemasan kecil.
Kripik
balado dalam kemasan kecil di Muaro Kalaban ini merupakan hasil dari sebuah
usaha rumahan. Usaha ini dirintis oleh sepasang suami istri. Muhammad Serijo
(43) dan Riza Zendra (40) memulai usaha ini dari keisengan belaka. Usaha ini
berawal dari kebingungan Serijo dengan hasil ladang yang dimiliki oleh
keluarganya di Solok. Hasil ladang tersebut adalah singkong. Kebingungan dalam
mengolah singkong ini memunculkan ide untuk menjadikannya sebuah usaha. Usaha yang
terfikirkan waktu itu adalah membuat keripik balado yang dapat dijual di
warung-warung kecil. Akhirnya terbentuklah usaha keripik balado ini.
Setelah
beberapa waktu berjalan, hasil panen singkong di ladang keluarga Serijo tidak
dapat memenuhi kebutuhan untuk membuat keripik singkong balado di karenakan
panen ubi kayu memakan waktu yang cukup lama. Menghadapi masalah ini, Serijo
mancari dan membeli ubi kayu ke tempat lain. Saat sekarang ini, Serijo memasok singkong
dari Pariaman. Ubi di datangkan dari Pariaman 2x seminggu yaitu pada setiap hari
Selasa dan Sabtu.
Proses
pembuatan keripik balado biasanya di lakukan sebanyak 2x seminggu yaitu sehari
setalah ubi kayu di datangkan dari Pariaman. Rangkaian pembuatannya di mulai
dengan pengupasan kulit singkong yang dilakukan sendiri oleh pemilik usaha ini.
Setelah singkong dikupas, lalu ubi dibersihkan. Selanjutkan ubi akan di potong
menggunakan mesin pemotong. Uniknya pada proses pemotongan ini adalah ketika
mesin melakukan pemotongan, hasil pemotonganya tersebut langsung akan masuk ke
dalam kuali pengggorengan. Jadi pemilik usaha ini tidak perlu repot lagi untuk
memasukkan singkong yang telah dipotong ke dalam kuali pengorenggan. Mesin
pemotong singkong merupakan mesin yang dibuat sendiri oleh Serijo. Setelah singkong
di goreng, singkong siap untuk di beri cabai. Cabai di olah sendiri oleh Riza. Untuk
sekali pembuatan kripik balado dapat menghabiskan 10-20 kg cabai merah.
![]() |
| Proses pemberian cabai pada singkong |
Keripik
singkong balado yang sudah jadi akan dikemas dalam kemasan kecil. Dalam kemasan
ini akan diberi satu ikan kecil sebagai ciri khas dari keripik balado ini. Ikan
kecil ini juga memberikan sedikit sensasi ikan rasa ketika memakan keripik
tersebut. Kemudian kemasan ini akan diikat sebanyak 25 buah. Nantinya keripik
yang telah di ikat ini akan di jual ke warung-warung di Sawahlunto. Selain di
Sawahlunto, keripik ini juga di jual di beberapa warung di Kota Solok.
![]() |
| Keripik yang telah di kemas kecil dan diikat |
Hal
yang membuat keripik singkong ini digemari oleh warga Muaro Kalaban adalah
keripiknya yang empuk serta selalu baru. Keadaan yang selalu baru ini sangat
disukai oleh penjual warung. Serijo memang mempunyai prinsip bahwa keripikinya
akan diganti sekali 2 minggu demi menjaga kualitas. Apabila keripiknya tidak
habis dalam 2 minggu maka keripik akan di ambil dan diganti dengan yang baru. Keripik
yang tidak terjual selama 2 minggu tersebut akan di buang. Namun hal ini jarang
terjadi dikarenakan sebelum 2 minggu keripik yang di letakkan di warung
biasanya telah habis.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar